Gema Ramadhan

PUASA DAN KEJUJURAN

Di era materialisme dewasa ini, kejujuran telah banyak dicampakkan dari tata pergaulan sosial-ekonomi-politik dan disingkirkan dari bingkai kehidupan manusia. Fenomena ketidak jujuran benar-benar telah menjadi realitas sosial yang menggelisahkan. Drama ketidakjujuran saat ini telah berlangsung sedemikian transparan dan telah menjadi semacam rahasia umum yang merasuk ke berbagai wilayah kehidupan manusia.
Sosok manusia jujur telah menjadi makhluk langka di bumi ini. Kita lebih mudah mencari orang-orang pintar daripada orang-orang jujur. Keserakahan dan ketamakan kepada materi kebendaan, mengakibatkan manusia semakin jauh dari nilai-nilai kejujuran dan terhempas dalam kubangan materialisme dan hedonisme yang cendrungmenghalalkan segala cara.
Pada masa sekarang, banyak manusia tidak mempedulikan jalan-jalan yang halal dan haram dalam mencari uang dan jabatan . Sehingga kita sering mendengar ungkapan-ungkapan kaum materialis, “Mencari yang haram saja sulit, apalagi yang halal”. Bahkan selalu diucapkan orang,”kalau jujur akan terbujur”,”kalau lurus akan kurus”,kalau ihklas akan tergilas”.
Ungkapan-ungkapan itu menunjukkan bahwa manusia zaman kini telah dilanda penyakit mental yang luar biasa, yaitu penyakit korup dan ketidak jujuran.
Nabi muhammad Saw pernah mempredeksi, bahwa suatu saat nanti, diakhir zaman,manusia dalam mencari harta,tidak mempedulikan lagi mana yang halal dan mana yang haram. (HR Muslim).
Ramalan Nabi pada masa kini telah menjadi realitas sosial yang mengerikan, bahkan implikasinya telahmenjadi patologi sosial yang parah, seperti menjamurnya korupsi, pungli, suap, sogok,uang pelicin dsb. Banyak kita temukan pencuri-pencuri berdasi melakukan penyimpangan-penyimpangan dalam mengelola proyek. Manusia berlomba-lomba mengejar kekayaan dan kemewahan dunia secara massif, tanpa mempedulikan garisan-garisan syariah dan moralitas.
Era reformasi yang telah berlangsung lebih 10 tahun, dengan tekad untuk memberantas segala bentuk kolusi,korupsi dan nepotisme, -bahkan telah ditetapkan lewat Tap MPR- belum menunjukkan tanda-tanda dan hasil yang mengembirakan,sebab, praktek kolusi,korupsi dan suap menyuap masih saja menjadi kebiasaan masyarakat kita . Untuk mengatasi dan mengurangi segala destruktip tersebut, puasa merupakan ibadah yang paling ampuh dan efektif, asalkan pelaksanaan puasa tersebut dilakukan dengan dasar iman yang mantap kepada Allah, dan ihtisab (mawas diri), serta penghayatan yang mendalam tentanghikmat yang terkandung di dalam puasa Ramadhan.
Puasa melatih kejujuran
Berbeda dengan sifat ibadah yang ada, puasa adalah ibadah sirriyah (rahasia). Dikatakan sirriyah, karena yang mengetahui seseorang itu berpuasa atau tidak, hanyalah orang yang berpuasa itu sendiri dan Allah SWT.
Dalam ibadah puasa, kita dilatih dan dituntut untuk berlaku jujur. Kita dapat saja makan dan minum seenaknya di tempat sunyi yang tidak terlihat seorangpun. Namun kita tidak akan mau makan atau minum, karena kita sedang berpuasa. Padahal, tidak ada orang lain yang tahu apakah kita puasa atau tidak. Namun kita yakin, perbuatan kita itu dilihat Allah swt..

Orang yang sedang berpuasa juga dapat dengan leluasa berkumur sambil menahan setetes air segar ke dalam kerongkongan, tanpa sedikitpun diketahui orang lain. Perbuatan orang itu hanya diketahui oleh orang yangbersangkutan. Hanya Allah dan diri si shaim itu saja yang benar-benar mengetahui kejujuran atau kecurangan dalam menjalankan ibadah puasa. Tetapi dengan ibadah puasa, kita tidak berani berbuat seperti itu, takut puasa batal.
Orang yang berpuasa dilatih untuk menyadari kehadiran Tuhan. Ia dilatih untuk menyadari bahwa segala aktifitasnya pasti diketahui dan diawasi oleh Allah SWT.Apabila kesadaran ketuhanan ini telah menjelma dalam diri seseorang melalui training dan didikan puasa, maka Insya Allah akan terbangun sifat kejujuran.
Jika manusia jujur telah lahir, dan menempati setiap sektor dan instansi, lembaga bisnis atau lembaga apa saja, maka tidak adalagi korupsi, pungli, suap-menyuap dan penyimpangan-penyimpangan moral lainnya.
Kejujuran merupakan mozaik yang sangat mahal harganya. Bila pada diri seorang manusia telah melekat sifat kejujuran, maka semua pekerjaan dan kepercayaan yang diamanahkan kepadanya dapat diselesaikan dengan baik dan terhindar dari penyelewengan-penyelewengan. Kejujuran juga menjamin tegaknya keadilan dan kebenaran.
Secara psikologis, kejujuran mendatangkan ketentraman jiwa. Sebaliknya, seorang yang tidak jujur akan tega menutup-nutupi kebenaran dan tega melakukan kezaliman terhadap hak orang lain.Ketidakjujuran selalu meresahkan masyarakat, yang pada gilirannnya mengancam stabilitas sosial. Ketidak jujuran selalu berimplikasi kepada ketidakadilan. Sebab orang yang tidak jujur akan tega menginjak-injak keadilan demi keuntungan material pribadi atau golongannya.
Berlaku jujur, sungguh menjadi bermakna pada masa sekarang,, masa yang penuh dengan kebohongan dan kepalsuan. Pentingnya kejujuran telah banyak disapaikan Rasulullah SAW. Diriwayatkat bahwa, Rasulullah pernah didatangi oleh seorang pezina yang ingin taubat dengan sebenarnya. Rasulullah menerimanya dengan satu syarat, yaitu,agar orang tersebut berlaku jujur dan tidak bohong
Syarat yang kelihatan sangat ringan untuk sebuah pertaubatan besar, tetapi penerapannya dalam segala aspek kehidupan sangat berat.Dan ternyata syarat jujur tersebut sangat ampuh untuk menghentikan perbuatan zina. Jika ia tetap berzina secara sembunyi-sembunyi, lalu bagaimana ia harus menjawab jika Rasulullah menanyainya tentang apakah ia masih berzina atau tidak.Untuk menghindari berbohong kepada Nabi, maka si pezina mengakhiri prilakunya yang dusta itu dan kemudian benar-benar bertaubat dengan penuh penghayatan.
Dari riwayat itu dapat ditarik kesimpulan, bahwa kejujuran sangat signifikan dalam membersihkan prilaku menyimpang, seperti korupsi, kolusi, penipuan, manipulasi, suap-menyuap dan sebagainya.
Dewasa ini kesadaran untuk menumbuhkan sifat kejujuran sebagai buah dari ibadah puasa, kiranya perlu mendapat perhatian serius. Pendidikan kejujuran yang melekat pada ibadah puasa, perlu dikembangkan sebagaibagian dari kehidupan riel dalam masyarakat. Sebab apabila kejujuran telah disingkirkan, maka kondisi masyarakat akan runyam. Korupsi dan kolusi terjadi di mana-mana, pungli merajalela, kemungkaran sengaja dibeking oleh oknum-oknum tertentu demi mendapatkan setoran uang.
Fenomena kebohongan dan tersingkirnya sifat kejujuran, mengantarkan masyarakat dan bangsa kita pada beberapa musibah nasional yang berlangsung secara beruntun dan silih berganti tiada henti. Terjadinya malapetaka berupa krisis ekonomi yang melanda bangsa Indonesia adalah cermin paling jelas dari makin hilangnya sukma. kejujuran dan semakin mekarnya kepalsuan dalam kehidupan bangsa kita.
Dalam menghadapi kasus-kasus yang gawat seperti itu, pesan-pesan profetik keagamaan seperti pesan luhur ibadah puasa dapat ditransformasikan untuk membongkar sangkar kepalsuan dan mem bangun kejujuran.
Ada yang secara pesimis berpendapat, bahwa membangun kejujuran pada era materialismeadalah suatu utopia (angan-angan) mengingat mengakarnya sifat ketidak jujuran dalam masyarakat dan bangsa kita. Sebagai orang beriman yang menyandang peringkat khairah ummah, sikap pesimis di atas harus dibuang jauh-jauh.Sebab gerakan amarma’ruf nahi mungkar yang dilandasi iman, harus tetap dilancarkan, agar konstelasi dunia ini tidak semakin parah.
PENUTUP
Realitas menunjukkan, bahwa kesemarakan ramadhan dari tahun ke tahun semakin meningkat, namun ironisnya, bersamaan dengan itu penyimpangan dan ketidakjujuran masih berjalan terus. Padahal, suatu bulan kita dilatih dan didik untuk berlaku jujur, menjadi orang yang dapat dipercaya. Bila selama satu bulan itu, orang-orang yang berpuasa benar-benar berlatih secara serius dengan penuh penghayatan terhadap hikmah puasa, maka pancaran kejujuran akan terpantul dari dalam jiwa mereka. Kalau puasa Ramadhan yang dilakukan tidak melahirkan manusia-manusia jujur, berarti kualitas puasa orangtersebut masih sebatas lapar dan dahaga. Karena puasa yang dilakukan tidak memantulkan refleksi kejujuran. Kalau orang yang berpuasa, masih mau menerima suap dari orang-orang yang mencari pekerjaan, berarti kualitas ibadah orang tersebut masih sangat rendah. Kalau orang yang berpuasa, masih mau melakukan mark up dalam proyek, korupsi dan kolusi, berarti puasa yang dilakukan masih jauh dari tujuan puasa.
Kalau pasca puasa Ramadhan, kejujuran semakin tipis atau sirna,pungli,korupsi dan kolusi tetap menjadi kebiasaan, barang kali puasa yang dilakukan tidak didasari iman, tetapi mungkin ia melakukan puasa hanya karena mengikuti tradisi. Untuk mewujudkan manusia jujur, perlu peningkatan iman dan penghayatan kesadaran kehadiran Tuhan. Tanpa upaya ini, kejujuran tak kan lahir dari orang yang berpuasa Cara awalnya ialah dengan mengikuti Training ESQ atau Pesantren Qalbu. Hasilnya sudah terbukti secara sifnifikan di mana-mana. BanyakBUMN omzetnya meningkat secara signifikan setelah para direktur dan managernya ikut training ESQ (Emosional Spitual Quentiont). Yang dilaksanakan oleh Ary Ginanjar Agustian.
(Dosen Pascasarjana UI ; Ekonomi dan Keuangan Islam)
Ditulis oleh Agustianto

LAILATUL QODAR

Secara terminologi Lailatul Qodar diartikan sebagai "Malam kemuliaan yang lebih baik dari seribu bulan (83,3 Tahun)". Sebagai mana Allah swt firmankan dalam surat al-Qodar. Secara etimologi: Lailatul Qodar terdiri dari dua suku kata "Lailah" dan "al-Qodar".Lailah" berarti malam. Sedangkan kata "al-Qodar" mempunyai beberapa arti :
1. Al-Qodaru yang berarti Atta'dzim(التعظيم) : kemuliaan, atau keagungan makna ini seseuai dengan firman Allah :
وما قدروا الله حق قدره (الأنعام 91)
"Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya."
Dikatakan sebagai malam yang dimuliakan karena beberapa hal :
1. Turunnya Al-Qur'an pada malam itu yang diiringi dengan turunnya para Malaikat.
2. Turunnya berkah, rahmah, dan magfirah
3. Atau karena orang yang menghidupkan malam itu dengan ibadah akan menjadi orang yang mulia.
2. Al-Qodaru yang berarti Attadhyiiq (التضييق) : penyempitan, pembatasan. Makna ini sesuai dengan firman Allah :
قدر عليه رزقه (الفجر 16)
" ….Membatasi rizkinya"
Dengan makna ini Lailatul Qodar berarti "Malam yang dibatasi, disembunyikan dari pengetahuan manusia tentang waktu kejadiaanya".
Atau berarti "Bumi menjadi sempit dengan turunnya para malaikat".
3. Al-Qodar berarti penentuan taqdir, ketetapan. Sesuai dengan firman Allah swt :
إنا أنزلناه في ليلة مباركة إنا كنا منذرين. فيها يفرق كل أمر حكيم (الدخان 3-4)
"Sesungguhnya kami telah menurunkan al-Qur'an pada malam yang diberkahi, dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu ditentukan segala urusan yang penuh hikmah".
Lailatul Qodar dalam perspektif ini berarti "Malam dimana pada waktu itu ditetapkan taqdir manusia dari hidup, mati, rizki, nasib baik, nasib buruk dll untuk satu tahun kedepan".
B. Kemungkinan terjadinya lailatul Qodar :
Ada beberapa pendapat ulama tentang kemungkinan terjadinya Lailatul Qodar :
1. Lailatul Qodar sudah diangkat dan tidak akan terjadi lagi, pendapat ini dinisbahkan kepada Syi'ah. Pendapat ini dibantah dengan riwayat :
عن عبد الله بن يحنس قلت لأبي هريرة : زعموا أن ليلة القدر رفعت. قال : كذب من قال ذلك.
Dari Abdillah bin yahnas, aku telah berkata kepada Abu Hurairah " Orang-orang telah menyangka bahwa lailatul Qodar telah diangkat" beliau berkata : Telah berdusta orang yang berkata seperti itu".
2. Lailatul Qodar terjadi hanya sekali zaman Rasulullah saw. Pendapat inipun terbantahkan dengan riwayat diatas.
3. Lailatul Qodar terjadi pada setiap bulan Ramadhan. ini pendapat sebagian besar para ulama.
C. Waktu terjadinya Lailatul Qodar.
Banyak sekali pendapat para ulama mengenai waktu terjadinya lailatul Qodar. Saya akan menyebutkan beberapa pendapa terjadinya lailatul Qodar pada bulan Ramadhan:
1. Terjadi pada malam hari pertama bulan Ramadhan. seperti disebutkan dari Abi Razin al-'Uqaily as-Shahaby, dan diriwayatkan dari Ibnu Al 'ashim dari hadist Annas ra beliau berkata : Lailatul Qodar tejadi pada malam pertama bulan Ramdhan.
2. Terjadi pada malam 17 Ramadhan. Diriwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah dan Thabrani dari hadist Zaid bin Arqam ra, beliau berkata : "Saya tidak ragu dan tidak mengingkari Bahwa Lailatur Qodar terjadi pada malam ketujuh belas bulan Ramdhan. Malam diturunkannya al-Qur'an". Atsar ini juga diriwayatkan Abu Dawud dari Ibnu Mas'ud juga.
3. Terjadi pada malam ke 21, Pengikut mazhab syafi'I banyak yang cenderung dengan waktu ini.
4. Terjadi pada malam ke 23, Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dari Mu'awiyah ra, ia berkata : "Lailatul Qodar terjadi pada malam ke 23 Ramadhan". Dari Abi Juraiz dari Ubaidillah ibnu Abi Yazid dari Ibnu Abbas ra, ia berkata " Sesungguhnya ia (Rasulullah) membangunkan keluarganya pada malam ke 23"
5. Terjadi pada malam ke 25, seperti yang disebutkan Ibnu Arabi dalam "al-'Aridzah" dan Ibnu Jauzi dalam "al-Musykil".
6. Terjadi pada malam ke 27, Diriwayatkan Imam Muslim, dari Abi Hurairah ra, ia berkata "kita saling mengingatkan Lailatul Qodar", Rasulullah saw bersabda : "Siapakah diantara kalian yang mengingat ketika bulan terbit seperti sepotong mangkuk besar?". Berkata Abu hasan Al farisi "yaitu malam ke 27 dimana bulan terbit dengan sifat tersebut".
7. Terjadi pada tanggal ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Dan inilah pendapat jumhur ulama. Sebagaimana beberapa hadist yang di riwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, saya ambil salahsatunya :
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا أَبُو سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَز
Untuk lebih jelasnya mengenai berbagai pendapat ulama tentang waktu terjadinya lailatul Qodar, bisa dilihat dalam kitab "Fathul Bari" karangan Ibnu Hajar pada bab. "taharra lailatul Qodar fil witri min al 'asyri al-awaakhir"
Adapun hikamah disamarkannya waktu lailatul Qodar adalah guna menjadikan manusia lebih bersungguh-sungguh dalam menggapainya.
D. Keutamaan Lailatul Qodar.
Ada beberpa riwayat tentang keutamaan Lailatul Qodar :
1. Anas bin Malik ra menyebutkan ketika mengomentari ayat pertama surat al-Qodar, bahwa yang dimaksud dengan keutamaan (al-Qodar) disitu adalah bahwa amal ibadah seperti shalat, tilawah al-Qur’an, dan dzikir serta amal sosial (seperti shodaqoh dana zakat), yang dilakukan pada malam itu lebih baik dibandingkan amal serupa selama seribu bulan (tentu di luar malam lailatul Qodar sendiri).
2. Dalam riwayat lain Anas bin Malik juga menyampaikan keterangan Rasulullah saw bahwa sesungguhnya Allah swt mengkaruniakan ” Lailatul Qodar” untuk umatku, dan tidak memberikannya kepada umat-umat sebelumnya.
3. Rasulullah saw bersabda sebagimana diriwayatkan Imam bukhari : " Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan keikhlasan karena Allah saw maka ia akan diampuni semua dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa yang shalat (Tarawih, Tahajjud) pada malam Lailatul Qodar maka ia akan diampuni semua dosa-dosanya yang telah lalu".
4. Abdullah bin Abbas ra menyampaikan sabda Rasulullah bahwa pada saat terjadinya lailatul Qodar, para malaikat turun kebumi menghampiri hamba-hamba Allah yang sedang qiyam al lail, atau melakukan dzikir, para malaikat mengucapkan salam kepada mereka. Pada malam itu pintu-pintu langit dibuka, dan Allah menerima taubat dari para hambaNya yang bertaubat.
5. Ibnu Abi Syaibah pernah menyampaikan ungkapan al Hasan al Bashri, katanya : ” Saya tidak pernah tahu adanya hari atau malam yang lebih utama dari malam yang lainnya, kecuali ‘ Lailatul Qodar’, karena lailat al Qodar lebih utama dari (amalan) seribu bulan”.
Dari riwayat-riwayat diatas dapat diambil beberpa poin tentang keutamaan Lailatul Qodar :
1. Malam Lailatul Qodar merupakan malam keutamaan yang khusus diberikan kepada Umat Nabi Muhaamd saw saja.
2. Malam diturunkannya al-Qur'an.
3. Malam turunnya para Malaikat yang jumlahnya lebih banyak dari kerikil di bumi, mereka memberi ucapan selamat kepada orang-orang yang menghidupkan malam dengan Ibadah.
4. Diturunkannya berkah, rahmat dan magfirah, dan Allah swt menerima taubat setiap pendosa yang bertaubat.
5. Dibukanya pintu-pintu langit, sehingga komunikasi hamba yang berdo'a dan berdzikir tidak lagi terhalang.
6. Setiap Amal kebajikan yang delakukan pada malam itu bernilai pahala yang lebih banyak dibandingkan dengan waktu lain.
E. Menghidupkan Lailatul Qodar dengan Ibadah.
1. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan semua bentuk ibadah pada hari-hari bulan Ramdhan, dengan menjauhkan diri dari semua bentuk dosa dan maksiat. Bagi yang sudah berkeluarga hendaknya mengikut sertakan keluarga dalam ibadah ini.
2. Melakukan I'tkaf semampuh dan sekuatnya. Seperti yang dilakukan Rasulullah saw.
3. Menghidupkan malam degan Qiyamullail, dzikir dan tilawah al-Qur'an.
4. Bershadaqah dan berbagi rizki.
5. Memperbanyak do'a memohon ampunan dan keselamatan dari Allah swt. Dengan bacaan:
اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني
Sebagaimana yang diajarkan Rasulullah kepada Siti 'Aisyah ra. (seperti hadist yang diriwayatkan : Imam Ahmad, Tirmidzi, Ibnu majah)
F. Tanda-tanda Lailatul Qadar
Malam Lailatul Qadar hanya diketahui setelah terjadi. Tanda-tandanya diketahui setelah malam lewat, seperti yang diriwayatkan Abdullah bin Mas'ud dalam Sahih Muslim bahwa Rasulullah s.a.w. menyebutkan di antara tanda-tandanya adalah:
وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِي صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لَا شُعَاعَ لَهَا
"Tanda-tandanya adalah matahari terbit pada paginya putih tak bersinar menyengat"
Penutup :
Malam lailatul Qodar merupakan salah satu bonus akhirat yang diberikan Allah swt kepada umat Nabi Muhammad saw di bulan Ramadhan. Adalah pada 10 hari pertama Allah swt menurunkan Rahmat-Nya, pada 10 hari kedua diturunkannya maghfirah. Lalu di 10 hari terakhir diturunkannya pembebasan dari api neraka. Ditambah turunnya Lailatul Qodar pada hari-hari ganjil di 10 hari terakhir, malam dimana pahala amal kebajikan yang dilakukan hamba yang beriman dilipatgandakan. Maka lengkap sudah bonus yang Allah swt berikan kepada Umat nabi Muhammad saw ini. Tinggal kita berusaha untuk mendapatkan sebanyak yang kita bisa.
Satu hal yang perlu dicatat bahwa bonus-bonus akhirat ini tidak diundi, dan tidak diperuntukkan bagi golongan, suku, dan ras tertentu, sehingga setiap orang berhak mendapatkannya, sesuai dengan usahanya masing-masing.
Ditulis oleh Ustadz Asep Dani

PUASA DAN KESEHATAN

Dalam sebuah ayat Qur'an:

Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Qs.2 Baqarah:184
Disitu tertulis: "Berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui"
Ayat ini sudah jelas mengajak kita berpikir & meneliti, mengapa puasa lebih baik bagi kita?
Jawabannya tentu tidak hanya lebih baik bagi raga & tubuh kita, tapi tentu bagi jiwa & hati kita, namun, pada kesempatan kali ini, kami hanya akan membahas sedikit manfaat puasa dilihat dari sisi kesehatan saja.

❤♡ ❥ ♥ Mengapa puasa itu perlu ?¿?¿? ❤♡ ❥ ♥
1. Puasa adalah terapi pengobatan alami paling tua yang tak pernah lenyap ditelan zaman
2. Mengurangi jumlah dan frekwensi makan menyebabkan liver lebih aktif dan leluasa melakukan pembersihan atau pembuangan racun (detoksifikasi) dari dalam tubuh
3. Dengan berkurangnya racun dalam tubuh akan meningkatkan sirkulasi oksigen dan nutrisi ke seluruh sel dan jaringan tubuh sehingga sel bisa memperbaiki diri dan meningkatkan fungsinya secara optimal

Bagaimana terjadinya proses detoksifikasi selama puasa ?¿?¿?
1. Secara fisik, puasa mengistirahatkan organ-organ yang berkaitan dengan pencernaan termasuk lambung, usus, pankreas, empedu & liver
2. Liver adalah organ pencernaan yang aktifitas metaboliknya paling tinggi. Selain berfungsi sebagai gudang penyimpanan dan distributor zat-zat makanan yang diperlukan sel-sel tubuh kita, liver juga mengendalikan keluar masuknya racun pada tubuh kita
3. Secara bertahap dengan berkurangnya kalori saat berpuasa, liver akan mengubah glikogen (cadangan energi dari karbohidrat yang disimpan oleh hati) menjadi glukosa dan energi
4. Dengan berkurangnya jumlah glikogen karena puasa, maka tubuh akan menggunakan protein dalam otot sebagai penghasil glukosa dan energi dengan cara mengubah protein menjadi asam-asam amino lebih dulu. Asam lemak digunakan paling akhir setelah energi dari protein mulai menipis. Seperti protein, lemak juga diubah dulu menjadi keton sebelum menjadi energi yang dapat digunakan otak. Proses ini disebut ketosi
5. Pada puasa, ketosis merupakan adaptasi tubuh untuk mencegah kekurangan protein akibat pembakaran. Pembentukan keton baru dimulai pada hari ketiga, sehingga sebagian orang merasakan pusing.
6. Untuk melakukan penghematan energi, tubuh secara reflek mempertahankan diri dengan melakukan pengurangan beban, yaitu mulai melakukan pengurasan zat-zat bersifat racun bahkan yang sudah jauh merasuk ke dalam sel-sel tubuh yang paling dalam, dan juga ampasampas metabolisme seperti timbunan lemak, sel-sel aus, jaringan yang rusak, tumor dan berbagai bentuk jaringan abnormal lainnya dengan mengaktifkan organ-organ pembuangan. Proses ini disebut otolisasi, dan biasanya mulai terjadi pada hari ketiga juga. Dalam proses ini tubuh juga akan men-stimulasi dan mempercepat pertumbuhan sel-sel baru, pada saat protein yang diperlukan disintesa ulang (recycle) dari sel-sel yang sudah aus. Dengan demikian kadar protein dalam darah tetap konstan dan normal selama puasa.
7. Racun-racun dan ampas metabolisme yang tidak bisa direcycle dibuang oleh organ-organ pembuangan. Dalam proses ini, beberapa gejala pengeluaran racun dapat terlihat seperti warna urine yang lebih keruh, pengeluaran mukus atau lendir melalui hidung (ingus), tenggorokan (riak) dan berlanjut melalui usus besar.
8. Dengan berkurangnya racun dalam tubuh akan meningkatkan sirkulasi oksigen dan nutrisi ke seluruh sel dan jaringan tubuh sehingga sel bisa memperbaiki diri dan meningkatkan fungsinya secara optimal
Klik pada gambar untuk copy paste gambar agar lebih jelas saat disebarkan... ^_^
❤♡ ❥ ♥ Makanan ideal untuk puasa ❤♡ ❥ ♥
Junkfood (makanan sampah) adalah makanan yang berpotensi membentuk racun dalam tubuh. Junkfood bukan hanya fastfood. Semua makanan yang diproses sebenarnya sudah termasuk makanan sampah karena sebagian besar zat gizinya habis atau rusak. Makanan kalengan, makanan instant, daging olahan (bakso, sosis, kornet) bahkan makanan rumah yang berulangkali dipanaskan termasuk makanan sampah. Makanan yang baik tapi dalam proses pencernaan tidak tercerna sempurna juga akan menjadi junkfood di dalam tubuh.
❤♡ ❥ ♥Apa yang menyebabkan makanan tidak tercerna ?¿?¿?❤♡ ❥ ♥
1. Kombinasi jenis makanan yang terlalu beragam
2. Komposisi dan jenis makanan tidak memperhitungkan keseimbangan asam-basa tubuh
3. Makanan kurang lama dikunyah
4. Langsung menyantap makanan berat saat berbuka puasa
Pola makan yang menimbulkan makanan tidak tercerna, akan menyebabkan penumpukan makanan tak tercerna dalam kolon (usus besar). Kolon, sebagai bagian dari sistem pembuangan, merupakan organ yang tidak memiliki kemampuan mencerna makanan.
Secara alamiah, ampas akan dipadatkan ke dindingdinding kolon, sehingga produksi mukus meningkat. Mukus memang dibutuhkan dalam proses pembuangan, tetapi jika terbentuk secara berlebihan akan menjadi kerak dan bersama dengan ampas yang sudah mengeras akan membusuk menghasilkan gas toksik yang akan terserap ke dalam darah melalui poros-poros dinding usus, ikut sirkulasi darah sampai ke sel-sel jaringan dan sewaktu-waktu bisa menimbulkan masalah.

KIAT AGAR PUASA LEBIH BERMAKNA

Bulan Ramadhan merupakan bulan nan pernuh berkah; Ramadhan menjadi penghulu segala bulan dalam hitungan tahun Hijriyah, tahunnya umat Islam. Ramadhan adalah bulan shiyam (puasa), dan dia juga bulan qiyam (shalat malam).

1 - Keutamaan Bulan Ramadhan

Hadits-hadits yang mengupas keutamaan bulan nan agung ini, cukup banyak dan bercorak ragam. Cukup kita petik beberapa di antaranya, sebagai penambah muatan motivasi yang mengangkat gairah imani kita untuk memasuki bulan Ramadhan yang akan datang menjelang, dengan penuh harap akan ampunan dan karunia-Nya.

Dari Ubadah bin Shamit bahwasanya Rasulullah (sallallaahu alayhi wa salam) bersabda, yang artinya:

"Telah datang kepadamu Bulan Ramadhan, bulan nan penuh berkah. Di bulan itu Allah akan menaungimu; menurunkan rahmat dan menghapus dosa-dosa, mengabulkan doa dan memperhatikan bagaimana kamu sekalian saling berlomba-lomba (dalam kebaikan) pada bulan itu. Allah pun membanggakan dirimu di hadapan para malaikat-Nya. Maka perlihatkanlah (wahai kaum Muslimin) segala kebaikan pada dirimu. Sesungguhnya orang yang celaka adalah orang yang kehilangan rahmat Allah." (Diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabrani).

Hadits yang lain:

"Telah dianugerahkan kepada ummatku pada bulan Ramadhan lima karunia yang tidak pernah diberikan kepada ummat manapun sebelum mereka:

Aroma mulut orang yang berpuasa, disisi Allah, lebih harum semerbak ketimbang bau kesturi. Para malaikat memohonkan bagi mereka ampunan hingga waktu berbuka. Setiap hari di bulan itu, Allah menghiasi Jannah-Nya seraya berfirman kepada sang Jannah:

"Tak lama lagi, para hamba-Ku yang shalih akan dibebaskan dari beban dan kesusahan, lalu beranjak menemuimu."

Di bulan itu, para jin pembangkang dibelenggu; mereka tak dapat bebas berbuat, seperti pada bulan-bulan yang lain. Lalu, Allah mengampuni dosa- dosa mereka pada malam terakhir.

Ada sahabat yang bertanya: "Ya RasulAllah, apakah malam terakhir itu, malam Lailatul Qadar?".

Beliau menjawab:

"Bukan, karena orang yang beramal akan mendapati ganjarannya, bila ia telah selesai menunaikannya." [1]

Ada beberapa hadits lain yang senada dengan itu. Dua hadits di atas, dan banyak lagi yang lainnya meliputi beberapa kesimpulan:

1. Allah telah memberkahi bulan Ramadhan ini sebagai bulan pengampunan atas segala dosa, bagi orang yang memenuhi bulan ini dengan beragam ibadah; tetapi tidak untuk dosa-dosa besar.

Nabi (sallallaahu alayhi wa salam) bersabda: "Barangsiapa yang beribadah pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan introspeksi diri, akan Allah ampuni dosa-dosanya yang terdahulu." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dan Salman Al-Farisi, bahwasanya Rasulullah (sallallaahu alayhi wa salam) bersabda: "Antara shalat-shalat lima waktu; antara Jum'at dengan Jum'at; dan antara Ramadhan yang satu dengan ramadhan berikutnya; ada pengampunan dosa, bagi mereka yang menghindari dosa-dosa besar."[2]

Dosa-dosa besar hanyalah diampuni, lewat taubat tersendiri yang dilakukan seorang hamba dengan penuh penyesalan di hadapan Allah. Hanya saja sebagian ulama, di antaranya Ibnu Taimiyyah, Imam Nawawi dan lain-lain menegaskan; bahwa Ibadah Ramadhan, berikut shaum dan shalat malamnya, bila dilakukan dengan penuh keikhlasan berarti sudah mencakup taubat itu sendiri. Dan itulah yang menjadi tujuan puasa, bahkan seluruh ibadah seperti tertera dalam al-Qur'an adalah: Agar kamu sekalian bertakwa.

2. Termasuk keberkahan bulan suci Ramadhan adalah sempitnya ruang gerak setan itu untuk melancarkan godaan dan tipu dayanya terhadap bani Adam.

Terbelenggunya mereka, adalah dengan kehendak Allah dan dalam pengertian yang sesungguhnya. Namun juga tidak berarti mereka berhenti menggoda manusia secara total, seperti tersebut dalam hadits di atas.

3. Dihiasinya Jannah untuk menyambut kedatangan orang-orang yang berpuasa, seusai menjalani cobaan Allah selama masa hidup di dunia. Ini salah satu bentuk Tabsyir atau kabar gembira dari Allah.

4. Keberkahan bulan Ramadhan juga terungkap jelas, dengan adanya para malaikat yang memohonkan ampunan kepada Allah bagi mereka yang berpuasa. Di samping aroma mulut orang yang berpuasa yang secara lahir mungkin tidak sedap di sisi Allah lebih wangi dibanding aroma kesturi.


2 - Berbagai Keutamaan Lain

Sebagai Muslim yang mengharap keutamaan dan ampunan, di mana dia juga tak lepas dari noda dan dosa, maka noda dan dosa itu dapat terkurangi bahkan terhapus lewat ibadah di bulan Ramadhan. Segala bentuk ragam ibadah di bulan ini harus semaksimal mungkin kita mefaatkan di antaranya:

1. Memperbanyak Shadaqah

Imam Tirmidzi meriwayatkan: Rasulullah (sallallaahu alayhi wa salam) pernah ditanya: "Sedekah apakah yang paling utama?" Beliau (sallallaahu alayhi wa salam) menjawab: "Seutama-utamanya sedekah adalah sedekah di bulan Ramadhan." [3]

Nabi (sallallaahu alayhi wa salam) adalah orang yang gemar bersedekah. Kegemarannya bersedekah, menjadi semakin meningkat di bulan Ramadhan. Salah seorang sahabat telah berkata: "Sesungguhnya Rasulullah itu lebih pemurah, dibandingkan dengan angin yang berhembus. Dan terutama lagi di bulan Ramadhan." [4]

2. Shalat malam berjama’ah

Dari Abu Dzar, bahwasanya beliau menuturkan:

"Dahulu ketika kami melakukan shaum/puasa, Rasulullah (sallallaahu alayhi wa salam) tidak pernah shalat (malam) berjama'ah bersama kami hingga bulan Ramadhan hanya tersisa tujuh hari lagi. Lalu beliau shalat bersama kami hingga akhir sepertiga malam pertama. Pada malam yang ke dua puluh enam, beliau tak lagi shalat bersama kami. Namun pada malam ke dua puluh lima (satu malam sebelumnya), beliau sempat shalat bersama hingga pertengahan malam. Lalu kami bertanya: "Ya Rasulallah, apakah tidak engkau sisakan sebagian malam agar kami menambah shalat sendiri?"

Maka beliau bersabda: "Barangsiapa yang shalat (malam) bersama imam hingga selesai shalatnya, akan dituliskan baginya (pahala) shalat semalam untuknya." [5]

Hadits tersebut umumnya digunakan oleh para ulama untuk menetapkan disyari'atkannya shalat malam berjama'ah (tarawih) pada bulan Ramadhan. Namun hadits tersebut juga secara lebih khusus menyiratkan keutamaan shalat malam berjama'ah di bulan Ramadhan itu. Meskipun secara umum, juga berlaku untuk setiap shalat jama'ah, baik yang fardhu maupun yang mustahab.

Syaikh Nashiruddin al-Albani menegaskan: Sabda beliau (sallallaahu alayhi wa salam) : "Barangsiapa yang shalat (malam) bersama imam", itu jelas menunjukkan keutamaan shalat malam Ramadhan berjama'ah.

Hal itu dikuatkan, dengan riwayat dari imam Abu Dawud dalam "Al-Masail" hal. 62:

Saya pernah mendengar Imam Ahmad ditanya: "Mana yang lebih menarik hatimu, orang yang shalat berjama'ah atau shalat sendiri?" Beliau menjawab: "Tentu saja orang yang shalat berjama'ah."

Beliau juga pernah ditanya: "Bagaimana kalau orang yang shalat sendiri itu mengakhirkan shalat hingga akhir malam (pada waktu yang paling utama)?" Beliau menanggapi: "Sunnah kaum Muslimin tetap lebih aku sukai." [6]

3. Memperbanyak amalan akhirat

Bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, adalah ladang subur untuk menebarkan beragam amal shalih untuk dituai hasilnya di akhirat nanti. Dan mulai membaca al-Qur'an, memberi makan orang miskin atau memberinya sekedar makanan untuk berbuka puasa, berdoa, beristigfar, mempererat hubungan silaturrahmi dan lain-lain.

Banyak kaum Muslimin yang secara tradisi, memenuhi bulan suci ini dengan bekerja di luar kebiasaan; demi untuk merayakan 'Iedul fitri dengan mewah penuh kegemerlapan, bahkan terkesan dipaksa-paksakan; itu jelas merugikan.

Di ladang pahala, kita justru menanam amalan duniawi yang lebih banyak menghasilkan kesia-siaan. Padahal telah diingatkan dalam satu hadits mauquf (hanya sampai kepada sahabat) dari Hasan bin Ali:

"Apabila engkau mendapati seseorang melomba kamu dalam urusan dunia, maka lombalah dia dalam urusan akhirat." [7]

4. Menjalankan umrah

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya bahwa Rasulullah (sallallaahu alayhi wa salam) bersabda:

"Sesungguhnya ganjaran umrah di bulan Ramadhan, sama dengan ganjaran melaksanakan haji sekali atau bahkan haji bersamaku." [8]

Syaikh Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim All Jarullah dalam "Majmu' Rasail Ramadhan iyyah" menyatakan:

"Namun yang perlu dipahami, bahwa umrah di bulan Ramadhan itu, meskipun ganjarannya sama dengan ibadah haji, namun ia tidak menggugurkan kewajiban haji itu sendiri bagi mereka yang mampu berkewajiban".

5. Beribadah di malam Lailatul qadri

Para ulama menyatakan, bahwa malam itu disebut dengan Lailatul qadri (malam kemuliaan), karena kemuliaan dan keutamaannya. Bahkan dinyatakan, bahwa dimalam itu juga rizki dan ajal kematian para hamba untuk selama satu tahun ditentukan Allah. Sebagaimana difirmankan-Nya: "Pada malam itu dijelaskan, segala urusan yang penuh hikmat." (Ad-Dukhan: 4)

Banyak ayat yang menceritakan tentang keutamaannya yang tidak kami sebutkan di sini. Di malam itu juga pahala amal ibadah Allah lipatgandakan.

Nabi Bersabda: "Barangsiapa yang beribadah di malam Lailatul qadri, dengan penuh keimanan dan perhitungan; akan diampuni segala dosa-dosanya yang terdahulu." [9]

Adapun waktu malam tersebut, banyak sekali diperselisihkan para ulama. Imam Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam "Fathul Bari", setelah menuturkan puluhan pendapat para ulama, berkata:

"Pendapat yang paling kuat, malam itu terdapat pada sepuluh malam terakhir. Ia selalu berpindah, namun yang paling diharapkan dia akan muncul, pada malam-malam ganjil. Adapun tepatnya; menurut Syafi'iyyah pada malam ke 21 atau 23. Tapi menurut sebagian besar ulama pada malam ke 27."

Demikian juga pendapat syaikh al-Albani dalam "Qiyamul lail". Para ulama sering mengungkapkan, bahwa hikmah tersembunyinya kepastian malam itu, adalah agar kaum Muslimin giat beribadah pada setiap malam bulan Ramadhan, Wallahu A'lam.

6. I’tikaf

Lepas dari perselisihan di mesjid mana i'tikaf itu disyari'atkan, kaum Muslimin tetap harus mengakui kesepakatan para ulama bahwa i'tikaf di bulan Ramadhan, khususnya sepuluh hari terakhir, adalah keutamaan besar sekaligus sunnah yang tak pernah ditinggalkan Nabi (sallallaahu alayhi wa salam) seumur hidupnya hingga beliau wafat.

Dari Abu Hurairah berkata: "Nabi (sallallaahu alayhi wa salam) dahulu beri'tikaf setiap bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun di mana beliau wafat, beliau beri'tikaf selama dua puluh hari." [10]

Karena ia merupakan sunnah yang selalu dilakukan Nabi (sallallaahu alayhi wa salam), maka kaum Muslimin pun harus merentang jalan demi melaksanakannya sedapat mungkin, di mesjid manapun i'tikaf itu dilakukan. Oleh sebab itu, para ulama yang memilih pendapat bahwa i'tikaf itu hanya di tiga mesjid utama (mesjid Al-Haram, An-Nabawi dan Al-Aqsha), mereka menjadikan dalil "dilarangnya melakukan perjalanan sulit kecuali ke tiga mesjid" untuk dibolehkannya mencapai mesjid itu dengan upaya keras, karena di sana disyari'atkannya i'tikaf, sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam Ash-Shan'ani dalam "Subulu as-Salam".

Pendapat ke dua ini termasuk yang dipilih Syaikh Muhammad Nashiruddin al- Albani Hafidzahullahu Ta'ala seperti beliau jelaskan dalam kitabnya "Qiyamu ar- Ramadhan".

Adapun bagi mereka yang berpendapat disyari'atkannya i'tikaf itu di setiap mesjid jami', merekapun harus berusaha menghidupkan kembali sunnah Nabi (sallallaahu alayhi wa salam) yang sudah lama ditinggalkan ini. [11]